Oleh
Gufran AH, S.Pd. M.Si (Mantan Kabid Dikdas Kota Bima)
Gufran AH, S.Pd. M.Si (Mantan Kabid Dikdas Kota Bima)
Menjelang pemilihan Ketua PGRI Kota Bima 28 Oktober 2020 esok, saat ini sedang berkembang dinamika positif dalam tubuh PGRI mulai dari Tingkat Ranting, Cabang hingga Pengurus Daerah (PD) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Bima bergeliat berbagai aspirasi dan harapan terkait yang akan menjadi menahkodai PGRI Kota Bima kedepan paska Drs. H. Sudirman H. Ismail, M.Si berakhir (Demosioner). Syahwat atau Birahi ingin menjadi Ketua Umum atau jajaran pengurus mulai menggeliat berbagai manuver dan pertemuan berbungkus silaturrahmi, komunikasi via media sosial WhatsApp (WA), bahkan ironisnya lagi SMS (Short Messager Service) berantai yang dilakukan oleh salah satu oknum Ketua Organisasi Masyarakat Pendidikan Kota Bima yang di tujukan kepada beberapa Kepala Bidang (Kabid) di Dinas Pendidkan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Bima untuk mendukung salah satu kandidat kepsek SD dengan isi pesan singkat, “Calon itu harga mati dan harus dimenangkan,”.
Pada kontestan pemilihan Ketua PGRI Kota Bima kini mulai hangat diperbincangkan sejumlah kalangan penggiat pendidikan di Negeri ini. Geliat dan Manufer mulai berkembang dengan hangat, sejumlah nama mulai berkembang dengan cara kasar, gelap dan saling menjatuhkan dan fitnahpun dilakukan dan bahkan cara di lakukan tidak mengenal lagi mana halal dan harampun ikut di perankan, yang penting menang kandidat yang di usungnya menang.
Sejumlah nama sudah mulai muncul kepermukaan ironisnya lagi saking nafsunya ingin menjadi Ketua PGRI Kota Bima nama Kepala Daerah-pun di catut , seolah ada restu dari pimpinan daerah dan sudah di rekomendasikan pada salah satu calon saja dan bahkan mereka turun tangga jalan keluar masuk ke sejumlah satuan pendidikan mulai dari jenjang TK, SD dan SMP Se Kota Bima sudah di berikan rekomendasi yang mereka konsep sendiri dan diperbanyak hingga harus tanda tangani oleh pimpinan satuan pendidikan seolah kontestan yang di usung guru/Kepala Sekolah (Kepsek), yang menjabat sebagai salah satu kepsek itu sepenuhnya di dukung Walikota Bima.
Usai pertemuan dengan organisasi masyarakat pendidikan páda Kamis 3 September 2020 lalu bertempat di halaman kantor Dinas Sosial Kota Bima. Walikota Bima menegaskan, “Tidak akan memberikan rekomendasi pada siapapun, silahkan berkompetisi dan cari sendiri dukungan kalau ingin menang. Silahkan maju mencalonkan diri tanpa rekomendasi-rekomendasian,”. Tegas Walikota ketika itu.
PGRI adalah organisasi profesi yang didalamnya beranggotakan para guru-guru yang memberikan keteladanan sebagai alat atau media tempat berjuang, bergerak dan dinamis, melayani nasib guru menyangkut kesejahteraan. Namun penempatan guru selama ini tidak memperhatikan kebutuhan, mestinya harus diukur dari jauh dekatnya dimana mereka (Guru, red) tinggal, namun selama ini karena dendam membara oknum tim sukses saja, sedianya penempatan guru di lihat kebutuhan dan standarisasinya dan harus diperhatikan, dianalisa jauh dari tempat tinggal dengan tempat mengajar, pertanyaannya dari rumah ke sekolah para pahlawan tanpa jasa ini menggunakan apa?,.
Sementara guru dituntut untuk disiplin mengajar agar menjadi guru profesional, demikian juga dengan gaji yang tersisa setelah dipotong pinjaman dari Bank tinggal berapa yang di terima, hal ini bukan menjadi rahasia umum bagi PNS tidak mengambil uang pinjaman dari bank, yang pasti SK mereka kuliahkan dari S-1 hingga S-3 dan untuk pinjaman tidak satu bank justru banyak mulai dari Bank milik pemerintah dan swasta hingga ke koperasi dan ketempat perkreditan mulai yang setor harian hingga bulanan.
Calon Ketua PGRI kedepan harus memenuhi syarat umum dan khusus yang termasuk dalam Pasal 27 untuk syarat umum di antaranya adalah Beriman dan Bertaqwa pada Tuhan yang Maha Esa, Berjiwa Pancasila dan melaksanakan UUD 45, telah membuktikan peran aktif dalam kepengurusan dan atau dalam organisasi PGRI, “Bersih, Jujur, Bermoral Tinggi, Bertanggung Jawab dan Terbuka,”.
Terkait dengan bermoral tinggi ini, benar-benar harus diperhatikan oleh peserta bukan dilihar dari penampilan luar saja. Dari luar nampak di pandang dan penyejuk dimata walau leher ditutup dengan bersurban dan berkopiah layak malaikat, selain itu kesehariannya diluar sana penuh dengan kecurigaan dan senang mencari “Rumput tetangga lebih subur ketimbang rumput sendiri,”. Selain itu, yang memimpin PGRI kedepan harus memiliki finansial yang cukup artinya harus tersedia material, artinya setiap saat tersedia bukan cari pinjaman baru berjalan program. PGRI adalah organisasi profesi beranggotakan guru bukan tempat mencari sesuap nasi atau dapur mengepul atau mendapatkan kesejahteraan lewat kumpulan atau iuran anggota tapi bagaimana pengurus terutama, Ketua mampu memberikan harapan besar bagaimana organisasi PGRI bisa maju dan berkembang besar dan bisa berkibar melebihi organisasi profesi lainnya.
Teringat kisah nyata di lapangan Pahlawan Raba pada kegiatan HUT PGRI Kota Bima Tahun 2019 sekitar pukul 16.00 wita, salah satu kandidat calon ketua PGRI ini, saat itu dengan nada marah dan wajah garang mendatangi bendahara HUT PGRI menagih honornya karena merasa diri bekerja, tetapi tidak pernah aktif dan hanya mendesain undangan serta mendistribusikan undangan saja.
Oknum kepala satuan pendidikan tersebut, mendatangi bendahara untuk menagih uang lelahnya senilai Rp. 1 Juta, tetapi bendahara panitia saat itu memberikan Rp. 800 ribu saja dan bendahara menjanjikan akan membayar sisanya dikemudian hari. Namun lagi-lagi oknum itu dinilai tidak sabar dan hampir adu fisik dengan bendahara panitia di tempat orang banyak dan ketika itu sedang ada pertandingan olahraga antara Dinas Dikbud melawan SMKN 3 Kota Bima.
Sementara di sisi lain setahun yang lalu ketua panitia HUT PGRI dipercayakan pada Drs. H. Dahyar, dengan susah payah mendapatkan tambahan anggaran karena anggaran untuk hadiah tidak mencukupi sehingga seorang pengawas pendidikan ini berkonstribusi luar biasa dengan mengeluarkan uang dari kantong pribadinya hingga puluhan juta rupiah untuk menutupi hadiah, agar HUT PGRI berjalan lancar dan sukses dan terbukti berlimpangan hadiah.
Untuk itu, Ketua PGRI kedepan harus betul-betul orang yang memiliki finasial yang tersedia bukan mencari keuntungan di organisasi PGRI. “Saya selaku mantan Kabid Pembinaan Pendidikan Dasar (Dikdas) Dikbud Kota Bima, berharap agar pelaksanaan kontestan melalui konferensi PGRI Kota Bima agar berjalan dengan baik dan seluruh peserta diharapkan pula untuk aktif dalam mempergunakan hak bicara dan suaranya.
Pasalnya, peran aktif peserta kontestan sedikit banyak akan menentukan program kerja PGRI kedepan sebagai organisasi bergengsi para guru. “PGRI Kota Bima jaya, selalu kutitipkan kesejahteraan dan nasib guruku agar lebih maju dan profesional,”.
Penulis : Saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Kota Bima
COMMENTS